Pagi ini, hari Kamis, 22 Agustus 2013, aku ke puskesmas untuk minta surat pengantar Askes buat periksa rutin jantungku di RS Jantung Harapan Kita, besok pagi. Suasana di Puskemas Kedaung Kaliangke tumben amat ramai, dengan ibu-ibu muda yang sedang menggendong bayinya. Entah untuk apa mereka membawa bayi? Yang pasti berhubungan dengan kesehatan bayi-bayi mereka. Mungkin untuk imunisasi.
Aku sibuk memperhatikan keunikan setiap bayi yang digendong para ibu muda itu. Lucu-lucu, imut-imut, wajah-wajah polos tanpa dosa. Namun sewaktu melihat ibu-ibu yang sedang menggendong bayi mereka, pikiranku bertanya sudah berapa banyak dosa yang dikumpulkan mereka? Eh, sok kali aku. Justru aku seharusnya berpikir dan menerka sudah berapa pahala yang diraihnya saat berjuang mengandung dan melahirkan bayi-bayi yang digendongnya itu.Oh iya ya?
Aku jadi teringat ibuku. Betapa berat perjuangannya merawatku ketika aku masih bayi dulu. Oh ibu, semoga engkau berbahagia di alam sana, begitu juga bapak. Maafkan aku ibu, bapak. Ampuni aku yaa Rabb, aku belum bisa membahagiakan beliau dalam hidupnya.
Lamunanku tiba-tiba menerabas dinding-dinding penyekat ruangan di puskemas itu. Bayi-bayi itu tertawa bebas, mereka turun dari gendongan para ibunya. Aku jadi ingin bertanya kepada bayi-bayi itu. Para balita yang menggemaskan.
Pertanyaan yang ingin kuajukan kepada bayi-bayi itu adalah tentang "surga dan neraka". Ah, mana mungkin mereka bisa menjawab. Pandir nian aku? Ah, masa bodoh! Kutepis keraguan ini, lalu aku keraskan suaraku untuk menarik perhatian mereka.
Tanganku bertepuk sedikit keras untuk mencoba menenangkan suara gaduh mereka. Sambil berkata,
"Hallo! sayangku, perhatian-perhatian!",
"Apakah kalian tahu tentang surga dan neraka?"
"Siapa yang bisa jawab?"
"Siapa yang mau masuk surga?"
Benar saja, pertanyaanku tidak digubris oleh mereka. Mereka tetap asyik berlari, bermain, berteriak dan tertawa. Juga ada yang menangis akibat dipukul oleh bayi laki-laki yang suka iseng.
Akhirnya aku mencoba menebak apa jawaban mereka. Kutemukan jawabnya. Jelas saja mereka tak peduli tentang surga dan neraka. Sebab mereka yakin bakal masuk surga. Mengapa? Karena mereka belum pernah berbuat dosa. Mana ada berita seorang balita menghunus ayahnya. Atau balita membunuh ibunya?
Setelah kukantongi surat pengantar yang kuminta, aku meninggalkan puskesmas. Kutinggalkan kumpulan bayi-bayi itu. Aku berjalan kaki, tak menentukan arah tujuan. Aneh, bukannya pulang ke rumah untuk kemudian berangkat ke kantor, seperti biasa kulakukan beberapa bulan ini.
Kuikuti saja kakiku melangkah menyusuri jalan perumahan, lalu ke jalan Daan Mogot, lalu masuk gang sempit, becek dan kotor. Akhirnya langkah kakiku berhenti, seiring rasa nyeri dijantungku yang semakin menusuk. Wah, gawat! jantungku kumat. Udah sakit jantung, merasa sok kuat lagi jalan kaki.
Kulempar pandangan mataku ke berbagai arah dari tempat kuberhenti. Aku berdiri sendiri bagaikan patung. Oh, ternyata aku tepat berada di depan pintu gerbang masuk sebuah Panti Jompo "Kamboja". Aku putuskan masuk ke dalamnya. Aku ingin mengaso di tempat ini barang sejenak untuk melepaskan lelah.
"Assalamu'alaikum Pak, boleh saya istirahat di sini?" kuajukan salam perkenalan kepada satpam penjaga panti itu.
"Wa 'alaikum salam, boleh silahkan pak" sahut pak satpam.
Kulihat jam, waktunya shalat dhuhur. Kebetulan nih, aku beranjak ke Mushola di panti itu. Adzan berkumandang. Aku diminta jadi imam. Ok, why not? ah, sok ke-inggris-inggrisan. Tak apalah biar terasa keren saja.
Shaf hanya sebaris yang bapak-bapak. Ibu-ibunya hanya lima orang. Kemana jamaah yang lainnya? Mereka sudah tua, kenapa semakin jauh dari shalat? Selesai shalat, aku beranikan diri menyampaikan kultum. Semakin lama, semakin ramai yang melihatku berceramah. Mungkin mereka heran di musholla ada apa. Rasa ingin tahu mereka, membuat mushalla semakin sesak. Yang tadinya duduk santai, jadi ikutan beranjak menuju musholla.
Aku sampaikan guyonan, agar mereka tidak tegang. Suara tawa mereka ikut mengundang rasa penasaran para jompo yang tidak ikutan shalat. Yang aku heran, apakah para jompowan itu mendengar guyonanku atau sekedar berpartisipasi melihat rekan-rekanya tertawa. Ikutan tertawa biar nggak dibilang tuli. Oh, I don't know it.
Di tengah uraian ceramah kuajukan pertanyaan yang sama seperti kepada para balita di puskemas tadi pagi.
"Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian tahu tentang surga dan neraka?"
"Tahu!!" jawab mereka serentak.
"Siapa yang mau masuk surga?"
"Sayaaaa!!!" jawab mereka kompak.
"Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu mau masuk neraka?"
"Tidaak, Tidaaaaaaakkk! pak ustadz!" jawab mereka saling bersahutan. Riuh rendah.
"Ok, kalau tidak ingin masuk neraka dan ingin masuk surga! Kenapa waktu shalat dhuhur tadi sedikit yang shalat?
Mereka terdiam seribu bahasa. Wajahnya terlihat polos bak balita, mata mereka menerawang jauh menembus awan.
Aku berusaha menjawab pertanyaanku sendiri. Jawabanku begini, mungkin karena mereka sudah tua, sudah pikun, sudah lupa bacaan shalat. Sehingga mereka jadi malas shalat! Atau memang sejak muda tidak terbiasa shalat lima waktu. Oh, wahai manula. Alam kubur tinggal beberapa langkah ibaratnya, namun mengapa tidak kalian kejar pahala akhirat?
Pertanyaan yang sama ingin kuajukan kepada yang masih muda, yang kaya, yang lupa daratan, yang punya kekuasaan, yang masih cantik, yang masih ganteng perkasa, yang punya usaha dan sudah jadi pengusaha sukses.
Namun tercekat di rongga mulut, terasa ada yang menahan, mulutku tak sanggup menanyakan tentang "surga dan neraka" kepada mereka. Sebab aku takut ditertawakan...
Kupandangi awan biru, di tengah terik siang panasnya matahari jam satu siang. Panasnya luar biasa, panas musim kemarau yang panjang. Kubayangkan betapa panasnya neraka. Tak terperikan panasnya, pasti!
Kulangkahkan kaki ini, keluar dari Panti Jompo "Kamboja". Kurogoh saku celana bututku, ada sisa uang Rp3000,-. Kuhampiri kios es kelapa muda di dekat pintu gerbang panti jompo itu. Aku beli segelas air kelapa muda. Hmm... tenggorokanku terasa segar setelah aku meneguk air es kelapa muda itu. Kubayangkan betapa segarnya minuman di surga.
Aku ingin pulang dengan membawa bekal yang cukup.
Wassalam,
SangPenging@T!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar