Aku pernah merasakan hidup di negeri orang. Tahun 1974-1975 aku bersekolah di Sekolah Indonesia Bangkok, lokasi sekolahnya di dalam Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Thailand.
Ya, aku dan adik-adik juga Ibunda, semua ikut Bapak yang sedang bertugas sebagai dosen tamu di Mahidol University di Bangkok. Sebuah ibukota yang sibuk, nggak beda jauh dengan Jakarta.
Di Bangkok aku punya makanan favorit. Yang paling kusuka. Antara lain, namanya Somtam. Kalau di Jakarta atawa Bogor ya semacam Asinan Sayuran begitu. Cuma bedanya kalau Somtam, yang jadi bahan baku utamanya cacahan pepaya muda. Sementara kalau asinan bahan utamanya cacahan kubis. Lalu ada kacang tanah goreng, tomat. Plus campuran sayuran lainnya. Lupa aku. Pokoknya, wuihhh, segerrrr apalagi dimakannya siang hari. Biasanya aku beli di hari libur sore hari. Beli di pasar dekat rumah.
Dan ketika pulang sekolah sambil berjalan kaki, aku suka mampir di kedai kopi di dekat rumah. Tentunya kalau duit bekal masih tersisa di kantong. Penjaga kedai itu seorang ibu tua. Aku biasanya main slonong boy. Alias langsung masuk kedai bangunan tua itu, tujuannya ke kulkas yang juga tua di bagian belakang. Aku langsung buka kulkas itu dan kucari RC Cola. Hmm kok bukan Coca Cola? Soalnya harganya RC Cola lebih murah. Lalu tambahannya tak lupa kusambar roti isi coklat atau kacang hijau. Hmm nikmat, minumannya di bungkus pakai plastik. Dan sambil melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, aku sruput minuman es itu. Suegerrr tenan!!
Nah waktu tinggal di Pontianak, beda lagi makanan kesukaanku. Diantaranya bubur pedas (menurut berbagai sumber asal bubur ini dari kota sambas). Bubur (sambas) pedas ini rasanya baru sekali aku memakannya, langsung jatuh cinta. Dan bubur sambas itupun pemberian dari tetangga depan rumah. Aku cari info tentang bubur ini di internet ternyata bahan bakunya beras ditumbuk plus campuran sayur mayur ada pakis, kangkung serta diberi tetelan daging, dll. Ibuku rasanya tak pernah memasaknya. Lagi pula, dulu jarang ada warung makan yang menjualnya.
Nikmat jika disantap panas. Ya tepatnya hangatlah, sebab jika panas tentulah bikin bibir dan lidah melepuh.
Lalu ada soto Banjar di dekat rumah. Enak sekali rasanya. Ibu sering
membelinya jika tak sempat memasak. Kadang aku yang disuruhnya untuk
membeli soto itu sebagai lauk makan malam.
Ada lagi makanan unik khas Pontianak yang kusuka yaitu Pacri Nanas. Hmm segar nian masakan ini.
Waktu SD aku punya tongkrongan istimewa, yakni sate sapi. Lokasi penjual sate sapi ini di samping pintu masuk sekolah Tionghoa. Jika duit cukup untuk membelinya, pasti aku berangkat ke sana, naik sepeda mini, sepulang sekolah.
Asyiiik juga mengenang makanan favorit di suatu kota yang pernah kita tinggal di sana. Bangkok dan Pontianak.
Wassalam,
SangPenging@T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar