Adsense

Jumat, Februari 14, 2014

Sebuah Puisi Judule "Masih Muda, Sudah Tua"

Setiap kali aku berada di samping atau di belakang anak muda yang sholeh, sudah haji, kaya dan takwa. Apalagi dia kebetulan jadi imam shalat, sementara aku jadi makmumnya. Pasti ada sesuatu rasa yang membuat air mata ini menitik.
Ck ck ck... kok jadi syahdu begini? Tak tahulah awak.
Lalu dalam hati muncullah sebaris, eh berbaris-baris kata yang berbunyi seperti puisi yang kutulis ini;

Dia masih muda, sudah konglomerat
 aku sudah tua, belum kaya raya tapi cukuplah

Dia masih muda, sudah haji
 aku sudah tua, belum haji tapi mau banget

Dia masih muda, tapi sudah berprestasi
 aku sudah tua, masih biasa-biasa saja

Dia masih muda, sudah punya jabatan dan berkuasa
 aku sudah tua, masih seperti yang dulu

Dia masih muda, sudah punya nama
 aku sudah tua, tapi belum ternama

Dia masih muda, sudah kemana-mana
 aku sudah tua, masih tetap di sini

Dia masih muda, sudah punya harley davidson 1600cc
 aku sudah tua, yang kupunya motor honda bebek 80cc dan 125cc

Dia masih muda, sudah punya BMW, Mercy, Jaguar, Audi, Lamborghini, Ferari tahun terbaru
 aku sudah tua, yang kupunya Hyundai accent tahun 2001

Stop, stop sekali lagi; STOP! Puisi ini harus kuhentikan disini,
 supaya aku tidak terus-terusan membanding-bandingkan
   sebab yang aku kuatirkan, aku jadi tak bisa menikmati diriku seperti yang sekarang ini...
      tak pandai mensyukuri nikmat...

Satu yang pasti mudah-mudahan aku bisa mengejar ketertinggalanku dari dia yang masih muda.
Insya Allah...
____

Eh, tiba-tiba ada rasa sesal yang mendalam. Dulu ketika kumuda
pernah kurasa seperti ada tembok tebal dengan kata-kata dengan huruf tebal bertuliskan,
NANTI SAJA KALAU SUDAH DEWASA, KALAU MAU USAHA!
Tapi sekarang aku sudah jauh dari dewasa, kok tetap begini-begini saja.
Lalu siapa yang salah? kau, jelas salah kau sendiri! kenapa mau menunda? Eits dah...?

Wassalam,
SangPenging@T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar