Setiap kali aku berada di samping atau di belakang anak muda yang sholeh, sudah haji, kaya dan takwa. Apalagi dia kebetulan jadi imam shalat, sementara aku jadi makmumnya. Pasti ada sesuatu rasa yang membuat air mata ini menitik.
Ck ck ck... kok jadi syahdu begini? Tak tahulah awak.
Lalu dalam hati muncullah sebaris, eh berbaris-baris kata yang berbunyi seperti puisi yang kutulis ini;
Dia masih muda, sudah konglomerat
aku sudah tua, belum kaya raya tapi cukuplah
Dia masih muda, sudah haji
aku sudah tua, belum haji tapi mau banget
Dia masih muda, tapi sudah berprestasi
aku sudah tua, masih biasa-biasa saja
Dia masih muda, sudah punya jabatan dan berkuasa
aku sudah tua, masih seperti yang dulu
Dia masih muda, sudah punya nama
aku sudah tua, tapi belum ternama
Dia masih muda, sudah kemana-mana
aku sudah tua, masih tetap di sini
Dia masih muda, sudah punya harley davidson 1600cc
aku sudah tua, yang kupunya motor honda bebek 80cc dan 125cc
Dia masih muda, sudah punya BMW, Mercy, Jaguar, Audi, Lamborghini, Ferari tahun terbaru
aku sudah tua, yang kupunya Hyundai accent tahun 2001
Stop, stop sekali lagi; STOP! Puisi ini harus kuhentikan disini,
supaya aku tidak terus-terusan membanding-bandingkan
sebab yang aku kuatirkan, aku jadi tak bisa menikmati diriku seperti yang sekarang ini...
tak pandai mensyukuri nikmat...
Satu yang pasti mudah-mudahan aku bisa mengejar ketertinggalanku dari dia yang masih muda.
Insya Allah...
____
Eh, tiba-tiba ada rasa sesal yang mendalam. Dulu ketika kumuda
pernah kurasa seperti ada tembok tebal dengan kata-kata dengan huruf tebal bertuliskan,
NANTI SAJA KALAU SUDAH DEWASA, KALAU MAU USAHA!
Tapi sekarang aku sudah jauh dari dewasa, kok tetap begini-begini saja.
Lalu siapa yang salah? kau, jelas salah kau sendiri! kenapa mau menunda? Eits dah...?
Wassalam,
SangPenging@T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar