Adsense

Minggu, Februari 02, 2014

Banjir 2014

Banjir lagi, lagi-lagi banjir. Sebenarnya sudah bosan juga nulis tentang banjir. Tapi, tetap harus nulis. Biar apa? biar ada yang ditulis dan dikenang tentang banjir di tahun 2014 ini.

Perkiraan bahwa banjir besar di Jakarta itu terjadi setiap lima tahun sekali. Ternyata tidak betul. Nyatanya, ya banjir juga tahun 2014 ini, padahal setahun yang lalu (2013) rumahku dilanda banjir besar.

Tahun 2013, banjir melanda sebagian Jakarta termasuk rumahku setinggi 70cm, dari tanggal 17 sd 24 Januari. Dan kini tahun 2014, banjir terjadi dari 19 sd 24 Januari. Masuk ke dalam rumah lagi, setinggi 30cm. Mantap sama-sama terjadi di bulan Januari.

Yang mengherankan, banjir "ekstra" datang lagi, hari Rabu, 29 Februari 2014. Air menggenangi lagi kawasan yang biasa dilanda banjir.

Hari selasa kemarin aku sudah ijin tidak masuk kantor, karena periksa rutin jantungku, di RS Jantung Harapan Kita. Malamnya turun hujan deras, berulangkali. Reda, hujan, reda, hujan deras lagi. Begitulah irama turunnya hujan malam itu. Akibatnya hari rabu pagi, air menggenangi jalan komplekku.

Mau tak masuk kantor tak nyaman hatiku. Paling tidak begitu parah banjir hari ini, begitu pikirku. Faktanya di jalanan, diluar perkiraan pikiranku. Lewat jalan di pasar pesing, macet berat, kendaraan tidak bergerak. Putar haluan, lewat jalan terusan dari diskotik Bandara, air menggenangi jalan setinggi 55cm. Balik lagi, akhirnya kucoba lewat jalan di samping Central Park.

Di depan Untar, grogol, air di jalan sudah mulai tinggi, aku terobos saja. Sampai Taman Anggrek, mobil tak bergerak. Pak polisi berteriak kepada salah satu sopir mobil, "tidak bisa bergerak!". Sopir itu ngeyel mau terus jalan. Aku akhirnya putar haluan lagi pilih balik arah, sekaligus melawan arus, ke arah grogol.

Jalan ke kantor semua tertutup genangan air. Buntu pikiranku! Kutelpon kantor, aku mau langsung pulang. Tapi dijawab dari kantor, mohon masuk ada kerjaan penting. Yo wis, aku harus ganti kendaraan. Pulang, dan ganti pit onthel. Supaya jarak tidak terlampau jauh. Aku ambil jalan lewat Green Garden, lalu tembus Taman Ratu. Kupikir banjir tak terlalu parah. Eh, ternyata ini pun diluar dugaanku. Parah banjirnya!

Akhirnya aku kayuh sepeda gunungku menembus genangan air, yang makin lama terasa makin tinggi. Setiap ada truk yang nekad menembus banjir, menimbulkan gelombang ombak yang keras. Aku sampai terhuyung, sepedaku oleng. Aku tak bisa menggenjot sepeda, akibatnya sepeda hanya bisa kutuntun saja.

Ngos-ngosan. Jantungku terasa menggigit. Sakit rasanya. Apa boleh buat. Harus dihadapi.

Kulihat jam, ternyata aku menghabiskan waktu satu setengah jam dari rumah sampai kantor, untuk jarah sekitar 5 km. Lama bener, tapi Alhamdulillah, yang penting sampai.

Banjir, oh banjir. Bagaimanapun juga harus dihadapi. Disyukuri. Jangan dicemooh.

Wassalam,
SangPenging@T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar