Bapak tua itu akhirnya bersedia untuk menunjukkannya buku tabungannya kepadaku, setelah kupancing-pancing dengan gaya memelas. Mataku terbelalak dibuatnya. Berapa jumlahnya? Tunggu sebentar aku mau bercerita panjang lebar tentang dia.
Sebut saja namanya Pak Snada (bukan nama sebenarnya). Sudah sejak bulan Maret 2014 aku mengenalnya. Aku sering melihatnya saatnya shalat dhuhur dan ashar di masjid Al Isra', dekat kantorku, di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Nah, aku kerapkali melihatnya mengaji Al Qur'an dan kemudian membaca terjemahannya. Hal itu dilakukannya sekitar lima belas menit sebelum azan Ashar. Rupanya dia pensiunan Kementrian Dalam Negeri. Penampilannya sederhana. Senangnya memakai peci. Kegiatannya setiap hari adalah keluar dari rumah untuk shalat berjamaah di masjid-masjid yang dia suka. Pokoknya harus keluar rumah. Meskipun sudah tua, dia tak suka ongkang-ongkang (duduk santai) di rumah.
Hari ini, Senin 23 Juni 2014, dompetku kosong sama sekali ketika mau berangkat ke kantor. Tadi sebelum berangkat ada sedikit ketegangan komunikasi antar aku dan istriku. Oleh karena itu dia ogah memberiku pinjaman. Untungnya hari ini hari Senin, dan aku belum menyentuh sarapan yang memang tidak ada di meja makan. Makanya aku putuskan untuk puasa saja. Puasa senin. Beres!
Kembali ke Pak Snada. Selepas shalat Dhuhur tadi, aku berbincang-bincang santai dengannya.Dia duduk bersila, sementara aku tiduran. Dia cerita bahwa dia baru saja tadi pagi nge-print buku tabungan BRI-nya. Oh ya, kataku. Aku jadi penasaran mau tahu jumlahnya. Ah, sedikit kok katanya. Aku tak percaya dan makin penasaran. Kubujuk terus, dan terus kubujuk dia agar mau menunjukkan hasil prin-prinannya.
Akhirnya dia buka pelan-pelan buku tabungannya. Hmm... jumlahnya tertera angka Rp 75.550.830,00 (kurang lebih segitu) dan dibuku satunya tertulis angka Rp 25.100.000,00 (sama juga kira-kira segitu). Lho kok kira-kira, ya percisnya aku jelas malaslah menulisnya. Nanti dia pikir aku petugas pajak.
Sementara tabunganku? Hari ini, seratus ribu lebih sedikit. Ah, gak mungkin! itu pasti kata Anda (ah, padahal belum tentu ya? tau dah!). Kataku, kalau nggak percaya boleh tanya toko sebelah dah!, hehehee....
Pensiun yang dia terima sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Mantap, pengangguran digaji pemerintah. Melihatnya pak Snada dalam hati kuberteriak, "nikmatnya jadi pensiunan, mengapa dulu aku tidak melayangkan lamaran sebagai pegawai negeri, heH?"
Ah, sudahlah itu dulu, dan sekarang harus menatap ke depan. Jangan sampai nanti di akhirat, menyesal tidak mengumpulkan pahala sebanyak mungkin ketika dulu hidup di dunia. Sebab sudah pasti, sedikit pahala banyak dosa, maka neraka tempat tinggalnya. Hi, ngeri!
Yaa, Rabb jangan jadikan aku manusia yang menyesal nanti di akhirat. Tetapi jadikan aku hamba yang beruntung ketika Engkau hidupkan aku untuk yang kedua-kalinya nanti di alam akhirat. Hidup di surga-Mu. Aamiin...
Wassalam,
SangPenging@T!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar