Televisi bisa menyihir siapa saja yang "kebetulan" menyukai suatu program acara televisi. Mulai dari sinetron, acara gossip (ghibah!) dengan berbagai nama, sampai siaran langsung olahraga. Mengapa disebut sihir? karena orang yang tersihir bisa dibuat "lupa" diri, walau sejenak.
Ketika sedang asyik nonton televisi, kemudian terdengar adzan berkumandang, maka setan buru-buru membisikkan serangkaian kata-kata manis, bunyinya bisa begini; "Udah nanti aja shalatnya, nanggung bentar lagi iklan... Nah pas iklan baru deh, shalat!".
Kalau sudah begitu, jadilah shalat uber-uberan sama iklan. Takut sinetron sudah mulai, sementara shalat belum selesai. Kadangkala sampai-sampai makmumnya pesan; "Pak, baca surahnya jangan yang panjang-panjang".
Siaran langsung (live) pertandingan sepakbola umumnya bertepatan waktunya dengan saat yang pas untuk shalat tahajud. Sekitar jam 2 sampai jam 4 pagi dini hari. Idealnya sih, shalat tahajud dulu baru nonton sepakbola. Tetapi dasar setan, "sang penggoda"! Untuk urusan duniawi, dia punya seribu satu cara buat menggoda manusia. Supaya apa? Nggak shalat lima waktu, apalagi shalat tahajud!
Aku sebagai manusia juga pernah menjadi korban "sihir"nya televisi.
Suatu hari, entah episode yang keberapa, aku tersihir tayangan X-Factor. Aku terpesona pada peserta finalis X-Factor, yaitu penyanyi berbadan imut, Fatin Sidqia. Akibatnya? aku ikuti acara itu sampai selesai sekitar jam 2 pagi.
Padahal sudah bertekad habis acara, tidur sebentar, baru shalat Tahajud. Eh, kenyataannya tidurku pulas. Alarm handphone tak terdengar. Adzan subuh apalagi. Alhasil? Tahajud lewat, dan shalat Subuh berjamaah di masjid pun luput. Akhirnya shalat subuh di rumah saja. Masya Allah. Nyesel bin rugi rasanya. Ibadah dengan nilai pahala yang tinggi terabaikan!
Ketika siaran langsung MotoGP 2013 dari Amerika, aku nyaris tersihir. Jam dua pagi balapan baru dimulai. Balapan bakal berlangsung seru, apalagi persaingan antara Dani Pedrosa dan Marc Marquez sungguh menarik untuk ditonton. Tapi no way! Aku tak ingin tersihir untuk melalaikan Tahajud. Yeap! aku sisihkan waktu buat tahajud sebelum acara dimulai. Rupanya dengan tekad kuat. Bisa tuh!
Mengapa sih kita malas untuk tahajud? belum biasa? sungkan? atau ada alasan yang lainnya?
Ketika pertandingan sepakbola tim favorit kita berlaga, bisa tuh mata kita terjaga dan kuat untuk lek-lekan (begadang). Tapi kenapa untuk tahajud tidak kuat? Sungguh disayangkan.
Nikmat dunia oke no problem, tapi akhirat jangan dilupakan dong. Yuk biasakan tahajud sebelum nonton sepakbola siaran langsung dinihari.
Wassalam,
SangPenging@T!
Adsense
Kamis, Juni 20, 2013
Rabu, Mei 22, 2013
Lima Puluh Tahun Tambah Satu
Alhamdulillah... kupanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah Swt. Pada hari Selasa ini, tanggal 21 Mei 2013, usiaku tepat 51 tahun. Benar-benar tak pernah kubayangkan aku bisa mencapai usia di angka 51.
Tahun demi tahun yang kujalani, tak terasa sudah memasuki tahun yang ke-51. Setengah abad lebih satu tahun. Subhanallah...
Tak bisa kuhitung berapa pahala dan dosa yang sudah ku-"kantongi". Rasa-rasanya pahala masih amat sedikit, tetapi dosanya seabreg! Ngeri aku membayangkan, kalau tiba-tiba berjumpa malaikatul maut, sementara tubuh masih terlumuri dosa.
Prestasinya sampai di usia 51 mana, bro? Jangan ditanya, sebab belum ada yang bisa dibanggakan. Aku bercita-cita mudah-mudahan beberapa tahun ke depan ada suatu prestasi yang bisa kutorehkan. Semoga Allah meridhoi langkah-langkahku dan cita-citaku. Aamiin...
Yaa Rabb, kuberharap semoga kelak kiranya kubisa mengakhiri hidupku ini dalam keadaan Khusnul Khotimah.
Wassalam,
SangPenging@T!
Tahun demi tahun yang kujalani, tak terasa sudah memasuki tahun yang ke-51. Setengah abad lebih satu tahun. Subhanallah...
Tak bisa kuhitung berapa pahala dan dosa yang sudah ku-"kantongi". Rasa-rasanya pahala masih amat sedikit, tetapi dosanya seabreg! Ngeri aku membayangkan, kalau tiba-tiba berjumpa malaikatul maut, sementara tubuh masih terlumuri dosa.
Prestasinya sampai di usia 51 mana, bro? Jangan ditanya, sebab belum ada yang bisa dibanggakan. Aku bercita-cita mudah-mudahan beberapa tahun ke depan ada suatu prestasi yang bisa kutorehkan. Semoga Allah meridhoi langkah-langkahku dan cita-citaku. Aamiin...
Yaa Rabb, kuberharap semoga kelak kiranya kubisa mengakhiri hidupku ini dalam keadaan Khusnul Khotimah.
Wassalam,
SangPenging@T!
Selasa, Mei 14, 2013
Uje
Ketika sedang asyik bekerja di depan monitor komputer. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh berita pagi dari salah satu saluran televisi. Aku terpana, setengah tidak percaya. Pembaca berita mengabarkan kabar duka seperti ini; Hari Jumat, 26 April 2013 sekitar pukul 2.00 dini hari tadi, Ustadz Jefri al Buchori meninggal dunia, akibat kecelakaan tunggal lalulintas, di jalan Gedong Hijau 7, Pondok Indah.
Spontan mulutku berucap; Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Sambil masih menyimpan rasa tak percaya, aku sigap memencet remote control untuk mencari tahu kebenaran info tersebut dari beberapa saluran televisi yang lain. Setelah itu, baru kuyakin bahwa berita kematian Uje, memang betul.
Moge, motor besar Kawasaki kesayangannya yang dikendarainya sendiri menabrak sebuah pohon di tepi jalan Gedong Hijau 7, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Uje, (demikian dia lebih suka dipanggil) mengalami kecelakaan itu dalam perjalanan pulang sehabis ngopi bareng kawan-kawannya di sebuah cafe di daerah Kemang.
Ternyata hidup di dunia ini begitu singkat. Usia hidup mau 40 tahun, 50, 60, 70 atau 80 tahun, tetap saja komentar orang-orang yang ditinggal, rasanya (orang yang kita kasihi) seperti hidup hanya beberapa hari saja di dunia ini. Masak sih? Bisakah membayangkan ketika lulus SD, bagi mereka yang sekarang sudah berusia lanjut dan belum pikun maka rasa-rasanya baru kemarin lulus SD, eh sekarang sudah pensiun.
Spontan mulutku berucap; Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Sambil masih menyimpan rasa tak percaya, aku sigap memencet remote control untuk mencari tahu kebenaran info tersebut dari beberapa saluran televisi yang lain. Setelah itu, baru kuyakin bahwa berita kematian Uje, memang betul.
Moge, motor besar Kawasaki kesayangannya yang dikendarainya sendiri menabrak sebuah pohon di tepi jalan Gedong Hijau 7, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Uje, (demikian dia lebih suka dipanggil) mengalami kecelakaan itu dalam perjalanan pulang sehabis ngopi bareng kawan-kawannya di sebuah cafe di daerah Kemang.
Ternyata hidup di dunia ini begitu singkat. Usia hidup mau 40 tahun, 50, 60, 70 atau 80 tahun, tetap saja komentar orang-orang yang ditinggal, rasanya (orang yang kita kasihi) seperti hidup hanya beberapa hari saja di dunia ini. Masak sih? Bisakah membayangkan ketika lulus SD, bagi mereka yang sekarang sudah berusia lanjut dan belum pikun maka rasa-rasanya baru kemarin lulus SD, eh sekarang sudah pensiun.
Takdir meninggal di malam itu tak bisa ditolaknya. "Ayah" guru spiritualnya dari Jember sudah melarangnya agar Uje tidak pergi malam itu. Sebab dia melihat Uje masih lemah, setelah beberapa hari menderita sakit. Tapi Uje memaksa, harus pergi malam itu. "Uje sudah sehat ayah, doakan saja Uje selamat ya". Dia sempat berucap,"kalau sudah jatuh tempo bagaimanana Ayah?". Ternyata itu adalah kepergian Uje untuk selama-lamanya. Terjawab sudah kata "jatuh tempo" yang sering diucapkannya kepada gurunya itu. "Ayah"nya sempat bingung dan mencari tahu apa makna kata "jatuh tempo" bagi Uje.
Beberapa hari yang lalu, dalam obrolan dengan seorang teman perihal poligami yang dilakoni oleh sebagian ustadz kondang. Diantaranya tercetus tentang Uje. Agaknya dia setia pada satu pasangan. Tidak tergiur untuk nambah istri lagi. Dalam hatiku bertanya, iya ya... kemana Uje ya. Kok sudah lama tidak muncul di infotainment ya? Eh, tanpa diduga, tiba-tiba Uje muncul dengan berita duka tentang kematiannya.
Meski tulisanku tentang Ustadz Jefry ini agak terlambat munculnya alias sudah kadaluwarsa. Tak apalah! toh tulisan ini mudah-mudahan bisa jadi kenangan (minimal di blogspotku ini) dan semoga ada pelajaran yang bisa kita petik.
Pesan Uje terakhir di dunia maya yang disampaikan kepada teman-teman dan sahabatnya lewat BBM penuh makna. Dia menulis,"Pada akhirnya.. semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yang terbaik... Kembali kepada siapa..?? Kepada "DIA" pastinya.. Bismi_Ka Allohumma ahya wa amuut.." Uje
Dalam salah satu situs berita, merdeka.com mencatat ada 4 keistimewaan kematian Uje. Aku kutip empat keistimewaan itu, adalah sebagai berikut;
1.) Jenazah Uje di shalatkan ribuan jamaah di Masjid Istiqlal, selepas shalat Jumat. TPU Karet Tengsin, Jakarta Pusat pun dijubeli oleh para pelayat yang menghadiri pemakaman Uje.
2.) Uje meninggal di hari Jumat, konon hari Jumat adalah sebagian tanda khusnul khotimah.
3.) Mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menteri sampai rakyat biasa turut berduka.Dalam status twitternya, Presiden menilai Uje sebagai sosok yang mencerahkan. "Kita kehilangan lagi orang baik yg mencerahkan. Selamat jalan Ustadz Jefri, semoga nilai yg disebarkan bisa menginspirasi kita semua. *SBY*," tulis Presiden SBY dalam akun twitter @SBYudhoyono miliknya.
4.) Meski sudah meninggal, Uje tetap memberi manfaat. Paling tidak ini dirasakan oleh para pedagang minuman dan makanan, loper koran dan pedagang souvenir. Juga tukang parkir.
Makam Uje sampai hari ke-tujuh masih ramai dikunjungi oleh anggota masyarakat yang merasa kehilangan Uje. Peziarah tidak hanya dari Jakarta, tetapi dari luar kota bahkan ada yang dari luar negeri (diantaranya dari Malaysia dan Singapore).
Aku angkat topi dan kuacungi dua jempol kepada almarhum Uje. Usianya 40 tahun ketika dipanggil menghadap Ilahi. Perjuangannya seperti belum selesai, itu jika dilihat oleh mata manusia yang hidup di zamannya. Tetapi bagaimana menurut Allah? keputusan-Nya lah yang terbaik.
Begitu mendengar berita bahwa jenazah Uje akan dishalatkan di Masjid Istiqlal, langsung tanpa pikir panjang aku putuskan aku harus ikut men-shalatkan jenazahnya. Begitu pukul 11 siang, aku segera membereskan pekerjaan di kantor. Untungnya pekerjaan lagi tidak menumpuk. Dengan motor bebek Honda kesayanganku (maklum keuangan belum memungkinkan beli Moge kayak Uje), aku tancap gas menuju Masjid Istiqlal. Aku pilih shalat di lantai dua. Dengan maksud agar bisa jelas melihat keranda Uje dari atas. Betul saja perkiraanku, Masjid Istiqlal dipadati para jemaah shalat Jumat, hingga lantai 4.
3.) Mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menteri sampai rakyat biasa turut berduka.Dalam status twitternya, Presiden menilai Uje sebagai sosok yang mencerahkan. "Kita kehilangan lagi orang baik yg mencerahkan. Selamat jalan Ustadz Jefri, semoga nilai yg disebarkan bisa menginspirasi kita semua. *SBY*," tulis Presiden SBY dalam akun twitter @SBYudhoyono miliknya.
4.) Meski sudah meninggal, Uje tetap memberi manfaat. Paling tidak ini dirasakan oleh para pedagang minuman dan makanan, loper koran dan pedagang souvenir. Juga tukang parkir.
Makam Uje sampai hari ke-tujuh masih ramai dikunjungi oleh anggota masyarakat yang merasa kehilangan Uje. Peziarah tidak hanya dari Jakarta, tetapi dari luar kota bahkan ada yang dari luar negeri (diantaranya dari Malaysia dan Singapore).
Aku angkat topi dan kuacungi dua jempol kepada almarhum Uje. Usianya 40 tahun ketika dipanggil menghadap Ilahi. Perjuangannya seperti belum selesai, itu jika dilihat oleh mata manusia yang hidup di zamannya. Tetapi bagaimana menurut Allah? keputusan-Nya lah yang terbaik.
Begitu mendengar berita bahwa jenazah Uje akan dishalatkan di Masjid Istiqlal, langsung tanpa pikir panjang aku putuskan aku harus ikut men-shalatkan jenazahnya. Begitu pukul 11 siang, aku segera membereskan pekerjaan di kantor. Untungnya pekerjaan lagi tidak menumpuk. Dengan motor bebek Honda kesayanganku (maklum keuangan belum memungkinkan beli Moge kayak Uje), aku tancap gas menuju Masjid Istiqlal. Aku pilih shalat di lantai dua. Dengan maksud agar bisa jelas melihat keranda Uje dari atas. Betul saja perkiraanku, Masjid Istiqlal dipadati para jemaah shalat Jumat, hingga lantai 4.
Biasanya selepas shalat Jumat ketika ada pengumuman, mohon kepada para jamaah untuk men-shalatkan jenazah si Fulan, maka sebagian jamaah ada yang langsung ngloyor pulang. Tetapi kali ini yang kulihat pemandangannya sungguh berbeda. Selepas shalat Jumat, rasanya tak ada satu pun dari ribuan jamaah yang ngloyor pulang. Mereka tetap ditempatnya (termasuk aku) dengan sabar menunggu jenazah Uje diusung ke depan mimbar. Mereka ingin bersama-sama ikut men-shalatkan jenazah Uje. Subhanallah...
Uje yang dulu "liar" (menurut istilahnya ketika hidup di masa "Jahiliyah"), kemudian tobat untuk menemukan jalan lurus, jalan yang diridhoi Allah, lewat umroh, dan usahanya yang gigih dan doa Ibunda. Uje yang dulu selalu bikin jengkel Umi (ibunda), kini jadi kebanggaan Umi, istrinya Pipik dan keluarganya, walau dia sudah tiada. Dia benar-benar "ToTal" alias tobat total (Taubatan Nasuha), bukan "ToMat!" alias tobat kumat. Habis tobat kumat lagi.
Uje dikenal sebagai ustadz gaul. Sepanjang hidupnya, aku pernah melihat langsung dua kali dia berceramah. Satu di pameran buku Ikapi, di Istora Senayan. Yang kedua di salah satu masjid di daerah Pondok Aren. Suaranya ketika bershalawat dan mengaji melengking tinggi. Merdu. Ketika berbicara agak serak-serak basah. Pembicaraannya enak didengar, mudah diikuti. "Oke, choi?"
Walau Uje sudah tiada, ceramahnya yang menggugah dan bermanfaat masih bisa kita nikmati lewat YouTube. Dikala kita (para penggemarnya) kangen dengan tausyiah-nya, segera saja klik YouTube ketik "Uje". Selamat menikmati dakwah-dakwahnya, sahabat.
Wassalam,
SangPenging@T!
Sabtu, April 20, 2013
Mengapa susah disuruh shalat?
"Kalau aku jadi...gubernur DKI, orang yang berKTP Islam tetapi 3kali nggak shalat Jumat tanpa alasan yang jelas, akan diganti e-KTPnya dengan kolom agama ditulis "Kafir!!!" (dengan tanda pentung jumlahnya tiga!! mantap bro!!! setuju?"
Itu adalah rangkaian kata yang tertulis di status facebook-ku pada hari Jumat tanggal 19 April 2013. Nadanya amat keras. Pasti banyak yang mencibir; "kayak sok suci aja, sok alim, mentang-mentang rajin shalat, dan jarang meninggalkan shalat Jumat. Sok luh!" Nah begitulah mungkin yang terlontar dari sebagian besar pembaca status facebook itu.
Ampun ya Rabb, aku mohon ampun. Terus terang itu adalah ungkapan "ke-prihatinan-ku" kepada mereka yang meremehkan perintah-Mu, yaa Tuhan.
Bukan sok pamer rajin shalat. Sebab shalat memang tidak untuk dipamerkan. Tapi hatiku ingin mengajak mereka ( yang belum atau enggan mendirikan shalat) untuk yuuk sama-sama kita taat menjalankan perintah agama. Itu saja. Sebab meninggalkan shalat adalah dosa besar, bukan?
Tak jemu-jemunya aku ajak teman-temanku (yang kebetulan satu kantor) untuk shalat Jumat. Tetapi mereka tak bergeming. Tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Mereka merasa sayang meninggalkan kerjaannya dan obrolannya (jika sedang tidak ada kerjaan).
Jawabnya enteng. Ada yang bilang "titip salam sama Tuhan, pak", atau "bapak duluan deh, ntar saya nyusul" padahal boro-boro nyusul. Mereka bukan pergi ke masjid tapi ke warteg. Masya Allah...
Pernah iseng kuajukan pertanyaan. Jika ada pengumuman, "Bagi karyawan yang tidak shalat Jumat hari ini, maka mulai besok dan seterusnya tidak usah masuk kantor lagi! Ttd. Direktur Personalia, /Mengetahui; Direktur Utama". Kira-kira kalian mau shalat Jumat nggak? Serempak mereka menjawab "Mauuu... pak!". Nah, berarti kalian takutnya sama bos dong, tetapi kepada Allah kalian nggak takut? Mereka terdiam seribu bahasa.
Shalat Jumat yang seminggu sekali saja malas ditunaikan, apalagi yang lima waktu. Jangan ditanya.
Allah sudah memerintahkan untuk shalat Jumat. Tertuang dalam firman-Nya Surah Jumu'ah(62) ayat 9 :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Tetapi mengapa mereka malas shalat? itulah pertanyaan yang senantiasa bertalu-talu mengusik hati ini. Apa sih yang menyebabkan mereka malas shalat?
Sampai akhirnya kutemukan jawabnya kenapa mereka enggan shalat, ketika kubaca surah Al Baqarah ayat 6 dan 7, Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Harapanku sih dengan tulisan ini, mereka yang jauh dari shalat bisa tersentak kesadarannya. Bukan lagi zamannya, ambil rotan lalu memecut mereka supaya berangkat ke masjid. Memangnya anak kecil, memangnya kuda, toh mau masuk surga atau neraka itu adalah pilihan mereka.
Yaa Rabb, jauhkan aku dari riya, sombong dan pamer dalam beribadah.
Wassalam,
SangPenging@T!
Itu adalah rangkaian kata yang tertulis di status facebook-ku pada hari Jumat tanggal 19 April 2013. Nadanya amat keras. Pasti banyak yang mencibir; "kayak sok suci aja, sok alim, mentang-mentang rajin shalat, dan jarang meninggalkan shalat Jumat. Sok luh!" Nah begitulah mungkin yang terlontar dari sebagian besar pembaca status facebook itu.
Ampun ya Rabb, aku mohon ampun. Terus terang itu adalah ungkapan "ke-prihatinan-ku" kepada mereka yang meremehkan perintah-Mu, yaa Tuhan.
Bukan sok pamer rajin shalat. Sebab shalat memang tidak untuk dipamerkan. Tapi hatiku ingin mengajak mereka ( yang belum atau enggan mendirikan shalat) untuk yuuk sama-sama kita taat menjalankan perintah agama. Itu saja. Sebab meninggalkan shalat adalah dosa besar, bukan?
Tak jemu-jemunya aku ajak teman-temanku (yang kebetulan satu kantor) untuk shalat Jumat. Tetapi mereka tak bergeming. Tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Mereka merasa sayang meninggalkan kerjaannya dan obrolannya (jika sedang tidak ada kerjaan).
Jawabnya enteng. Ada yang bilang "titip salam sama Tuhan, pak", atau "bapak duluan deh, ntar saya nyusul" padahal boro-boro nyusul. Mereka bukan pergi ke masjid tapi ke warteg. Masya Allah...
Pernah iseng kuajukan pertanyaan. Jika ada pengumuman, "Bagi karyawan yang tidak shalat Jumat hari ini, maka mulai besok dan seterusnya tidak usah masuk kantor lagi! Ttd. Direktur Personalia, /Mengetahui; Direktur Utama". Kira-kira kalian mau shalat Jumat nggak? Serempak mereka menjawab "Mauuu... pak!". Nah, berarti kalian takutnya sama bos dong, tetapi kepada Allah kalian nggak takut? Mereka terdiam seribu bahasa.
Shalat Jumat yang seminggu sekali saja malas ditunaikan, apalagi yang lima waktu. Jangan ditanya.
Allah sudah memerintahkan untuk shalat Jumat. Tertuang dalam firman-Nya Surah Jumu'ah(62) ayat 9 :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Tetapi mengapa mereka malas shalat? itulah pertanyaan yang senantiasa bertalu-talu mengusik hati ini. Apa sih yang menyebabkan mereka malas shalat?
Sampai akhirnya kutemukan jawabnya kenapa mereka enggan shalat, ketika kubaca surah Al Baqarah ayat 6 dan 7, Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat."
Sayang, sungguh disayangkan jika kita mengaku Islam, ber-e-KTP Islam tapi perilaku kita jauh dari keislaman (ketaatan/ketaqwaan). Apa yang dimaksudkan dengan "taqwa" itu? Definisi taqwa di dalam Al Quran (Al Baqarah:2-5) dinyatakan:
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Harapanku sih dengan tulisan ini, mereka yang jauh dari shalat bisa tersentak kesadarannya. Bukan lagi zamannya, ambil rotan lalu memecut mereka supaya berangkat ke masjid. Memangnya anak kecil, memangnya kuda, toh mau masuk surga atau neraka itu adalah pilihan mereka.
Yaa Rabb, jauhkan aku dari riya, sombong dan pamer dalam beribadah.
Wassalam,
SangPenging@T!
Langganan:
Postingan (Atom)
