Adsense

Senin, Desember 09, 2013

Keluar Malam

Keluar malam tak baik buat perempuan, apalagi sendirian. Berbahaya! Bisa menimbulkan kesan negatif. Erat kaitannya dengan pekerja malam. Ah, kok bisa begitu ya?

Padahal pekerja malam di pasar tradisional, tentu membawa manfaat bagi masyarakat. Coba bayangkan jika tidak ada yang berjualan sayur mayur di malam hari. Bisa terganggu lalu lintas arus sayur mayur mulai dari tengkulak hingga tukang sayur yang menjajakan sayur di perumahan di pagi hari.

Malam ini aku terbangun jam menunjukkan angka 11 lewat 40 menit. Perut terasa lapar. Istri ikut terjaga, mendengar berisik badan dan kakiku bergerak di dalam kamar yang sunyi.

Dia tahu aku lapar. Kuajak dia keluar rumah, menemaniku membeli bubur kacang ijo di warung "IndoMie dan Bubur Kacang Ijo" di pinggir jalan masuk komplek. Berjarak sekitar 300meter dari rumahku.

Di warung itu aku jumpa seorang pemuda kerempeng. Ramah dia menyapaku. Tampilannya berambut gondrong. Istriku kaget. Kutawari dia bubur kacang ijo atau indomie rebus. Pemuda itu menampik halus.

Kasihan dia. Hidupnya bagai kapal tanpa nahkoda. Bapaknya sudah meninggal, mungkin setahun yang lalu. Kadang kulihat dia mengoceh sendiri. Kemejanya lusuh. Celana pendek. Suka duduk-duduk di tempat nongkrong para tukang ojek.

Dulu kulihat dia rajin ibadah. Bahkan beberapa kali ikut suatu majelis zikir. Sekarang dia sepertinya jauh dari masjid. Mudah-mudahan saja tidak jauh dari shalat. Artinya semoga dia tetap shalat walau di rumah.

Dan malam ini dia keluar malam, nongkrong di warung bubur kacang ijo. Sebelum aku masuk warung itu, dia sudah ada di dalam warung itu. Entah habis makan atau sekedar duduk-duduk. Setelah tawaran traktiranku ditolaknya, akhirnya aku pesan rokok setengah bungkus. Kuserahkan padanya. Dia tak menolak. Diterimanya pemberianku sebungkus rokok yang isinya setengah dengan takjim.

Padahal dalam hati ingin kubelikan dia sebungkus beneran bukan setengah. Tapi berhubung duitku nggak cukup buat beli sebungkus, ya terpaksa beli setengah. Kuberikan kepadanya seiring aku pamit pulang.

"Terima kasih, Om.. terima kasih Om", ucapnya berulangkali.

Begitulah kenyataan hidup. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah perjuangan. Kadang aku takut jika aku meninggal, anakku belum jadi orang. Dalam arti hidupnya belum mapan.

Yaa Rabb, semoga aku bisa mendidik anak-anakku dan tidak meninggalkan mereka dalam keadaan yang kekurangan.

Wassalam,
SangPenging@T!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar