Adsense

Senin, November 04, 2013

Pakaian Terakhir

Selamat jalan sahabatku, M. Kusnadi. Semoga engkau husnul khotimah. Diampuni segala dosanya, dan diterima semua amal ibadahnya oleh Allah Swt. 

Setiap mendengar berita dan menghadiri ke rumah duka, seorang sahabat apalagi saudara dekat, hatiku bergetar hebat, rasa dukaku mendalam menyayat-nyayat. Seperti hari ini, Sabtu 2 November 2013 aku hadir di rumah orangtua Kusnadi. Teman karibku di SMAN 2 Jakarta. Orangnya kurus, bahasanya santun.

Di depanku, dia sedang di kafani. Diam seribu bahasa, sepertinya merasa kedinginan. Ya dia habis dimandikan barusan tadi. Dingin? Ah, boleh jadi dia merasakan kehangatan dibalut kain kafan. Aku saja yang sok tahu.

Pakaian terakhir manusia muslim di dunia ini adalah kain kafan. Putih bersih. Tidak bermerk.

Di dalam kubur kita tidak berpakain bikinan disainer ternama. Hanya kain kafan, plus kapas. Tidak ada yang bisa kita sombongkan dengan pakaian, asesoris jam bermerek atau perhiasan emas bertahta berlian. Itu semua jadi rebutan ahli waris, jika kita punya.

Yang menemani di dalam kubur adalah amal sholeh kita. Amal shalat kita. Amal sedekah kita, dan amalan-amalan yang lainnya. Pokoknya amalan yang diperintah oleh Allah Swt.

Itu perbekalan orang mati. Yang kadang tidak kita persiapkan dengan cermat. Sedangkan kita mau pergi piknik ke luar kota saja kita sibuk belanja buat bekal bepergian.

Wahai kawan, yuuk jangan sampai kita lalai dengan perbekalan kita untuk pulang ke kampung akhirat.

Wassalam,
SangPenging@T!

Kamis, Oktober 31, 2013

Mumpung Masih Bisa

Lagi lagi aku ingin membahas ilmu aji mumpung. Ilmu tertua yang tidak ada text book-nya di kampus manapun. Paling tidak itulah yang aku tahu.

Mumpung ini banyak macamnya. Yang ingin kutulis di sini, tentang "mumpung masih bisa". Bisa apa? ya apa saja bisa.

Sudah sejak pagi  kemarin, Rabu 30 Oktober 2013 punggung telapak kaki kananku sakit karena asam urat kambuh. Jalanku sampai diseret-seret. Shalat pun sambil duduk, nggak bisa normal.

Di saat sudah sakit begini, baru terasa nikmatnya sehat. Makanya mumpung masih sehat, shalatlah. Mumpung masih kuat, apa susahnya jalan ke masjid.

Mumpung masih dititipi kekayaan, apa susahnya sedekah. Mumpung masih bisa ngomong, ngomonglah yang bermanfaat. Jangan ngomong yang sia-sia.

Mumpung mata masih normal, mengajilah.

Wassalam,
SangPenging@T

Senin, September 30, 2013

Septic Tank

Banjir dan Septic Tank. Dua hal yang membuatku stress! selama tahunan. Yeah, paling tidak sejak banjir besar lima tahunan rutin melanda ibukota sejak tahun 1997(?). Yang terakhir terjadi di awal tahun 2013 ini.

Pembuangan air di WC jadi kurang lancar, pikiran jadi ikutan tersumbat. Aroma tak sedap pun menggangu indra penciuman.

Tukang yang aku andalkan, maju mundur. Selalu menghindar untuk mengerjakan project "prestisius" ini. Yaitu meninggikan septic tank agar tidak terus terendam air, akibat banjir jika hujan turun walau hanya lima belas menit. 

Tapi untunglah akhirnya aku menemukan dua tukang yang berani meninggikan septic tank rumahku. Mereka minta ongkos borongan jauh diatas perkiraanku. Biayanya Rp 1.600.000,-.

Ternyata dalam hidup untuk soal pengeluaran kotoran jadi persoalan pelik, jika tidak ditangani dengan baik.

Pikiranku jadi melayang ke penghasilan. Yang 2,5 persen itu wajib dikeluarkan dari perolehan rejeki kita. Kalau tidak dikeluarkan sama saja artinya kita menelan kotoran kita. Wow! Keluarkanlah yang dua setengah persen itu, agar harta kita bersih.

Semoga tulisan ini bisa terus mengingatkanku untuk terus mengeluarkan yang 2,5 persen untuk kubelanjakan di jalan Allah. Syukur-syukur bisa lebih.

Wassalam,
SangPenging@T!

Sepersekian Detik

Hari minggu 1 September 2013 yang lalu, aku mengalami kejadian yang membuat hatiku shock. jantung berdebar kencang. Mana aku punya penyakit jantung lagi. Sampai beberapa hari aku terus membayangkan kejadian itu. Bahkan ketika menulis artikel ini, bayangan kejadian itu masih terekam jelas dalam pikiranku.

Sewaktu mengendarai sedan dengan kecepatan 40km/jam, di daerah Ciputat. Jalan yang aku lalui lurus dan mulus, kemudian di depan ada tikungan tajam belok ke kiri. Tepat ketika sedanku sampai di tikungan, sekonyong-konyong ada tiga anak yang ingin menyeberang jalan. Mereka setengah berlari, lalu berhenti tepat di bibir jalan.

Anak yang berdiri di bagian tengah sambil bercanda mendorong teman-temannya yang di sebelah kiri dan kanannya. Untungnya teman-teman yang didorongnya itu tidak mau langsung menyeberang. Bahkan mereka menarik diri dengan kuat agar menjauh dari tepian jalan.

Kalau saja kedua anak yang didorong tadi "latah", langsung menyeberang. Aku membayangkan kejadian tabrakan maut yang mengerikan. Sebab anak-anak itu berdiri hanya kurang dari setengah meter, ketika sedanku sedang melaju. Sedan dengan kecepatan 40 km/jam jika menghajar anak kecil, tentulah bisa berakibat fatal. Kematian. Masya Allah.

Dan jika dua anak itu mengikuti dorongan temannya, berlari menyeberang tepat di moncong sedanku. Waktuku hanya sepersekian detik untuk menginjak pedal rem.  Rasanya aku tak punya kesempatan itu.

Dan mungkin saja aku bisa meringkuk di balik jeruji penjara. Sebab umumnya jika terjadi kecelakaan antara orang dengan mobil. Biasanya sopir mobil yang disalahkan. Apalagi tak ada saksi yang melihat kejadian tersebut.

Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur kepada Allah atas terhindarnya dari kecelakaan maut itu.

Tak berapa lama setelah kejadian itu. Terdengar berita Dul (anak Ahmad Dhani) mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan tol Jagorawi, yang menewaskan tujuh orang.

Hati-hati sobat di jalan raya. Detik per detik harus makin tinggi konsentrasi ketika kecepatan mobil/motor yang kita kendarai semakin meninggi. Terlambat mengerem sekian detik, nyawa bisa melayang.

Wassalam,
SangPenging@T!