Pernah suatu masa ketika zaman kuliah dulu. Ya sekitar beberapa bulan sesudah masuk kuliah di Unas, jurusan Hubungan Internasional. Aku sibuk mencocok selera rokokku. Cari rokok yang merek internasional. Ada 555, Benson & Hedges, Marlboro. Wow, ngapain itu kulakukan? Siap-siap kalau nanti jadi diplomat, lalu ditawari rokok merk tersebut biar ini mulut nggak kaget. Gila, dan terlalu absurd. Dan ini jelas-jelas idenya setan terkutuk.
Ngapain sibuk cari-cari rokok untuk pergaulan internasional. Heh ini ni yang namanya orang termakan oleh iklan. Hehhehehe, maklum dulu aku belum jadi orang iklan.
Kenyataannya? aku mundur dari jurusan itu. Pindah jurusan seni reklame di Asri. Sekarang bahasa kerennya jurusan Disain Komunikasi Visual. Atawa graphic design and advertising.
Ah, itulah kupikir pikiran anak muda yang jelas ngawurrrr. Dan itu ada dalam suatu masa kehidupan anak manusia, masa-masa konyol, jauh dari jalan kebenaran. Bahasa lainnya, anak muda paling gampang disentuh oleh bujukan setan.
Yang menyelamatkan manusia dari jalan yang melenceng adalah dekat dengan Tuhan. Tetapi pertanyaannya, sebagian besar anak SMA kayaknya yang ada dalam pikirannya adalah dunia, dan uang musti ada. Nggak peduli orang tua banting tulang, susah setengah mati. Eh, anaknya tinggal menghabiskan.
Ya begitulah kehidupan, ketika aku sudah jadi orangtua, hmm tinggal giliran sekarang anak-anakku, "Pak, bagi duit dong!"
Wassalam,
SangPenging@T!
Adsense
Kamis, April 30, 2015
Minggu, Maret 22, 2015
Masih Pahit
Uang yang tersisa di kantong aku serahkan kepada anak yatim, sebelum shalat Isya di masjid dekat rumah. Sudah itu, kutatap dompet yang melompong. Isi belum tergantikan. Kapan Allah menurunkan rezeki berlimpah untukku. Masih tanda tanya besar.
Memberi jangan berharap. Itu kepada manusia. Tetapi kepada Tuhan, boleh dong? Allah Maha Kaya. Kekayaannya meliputi langit dan bumi. Sangat luas, tak terhingga dan tak sanggup kita menghitungnya.
Ternyata hidupku masih terasa pahit. Ada kalanya sih manis. Tetapi banyak pahitnya. Ah, jangan mengeluh. Telan saja. Sambil terus berikhtiar dan berdoa, siapa tahu rezeki yang tak terduga-duga menyapaku.
Ya Rabb, limpahkan rezeki yang banyak kepadaku...
Wassalam,
SangPenging@T!
Memberi jangan berharap. Itu kepada manusia. Tetapi kepada Tuhan, boleh dong? Allah Maha Kaya. Kekayaannya meliputi langit dan bumi. Sangat luas, tak terhingga dan tak sanggup kita menghitungnya.
Ternyata hidupku masih terasa pahit. Ada kalanya sih manis. Tetapi banyak pahitnya. Ah, jangan mengeluh. Telan saja. Sambil terus berikhtiar dan berdoa, siapa tahu rezeki yang tak terduga-duga menyapaku.
Ya Rabb, limpahkan rezeki yang banyak kepadaku...
Wassalam,
SangPenging@T!
Jumat, Maret 06, 2015
PBB 2015 di DKI Jakarta
Hari ini saya dibuat terkaget-kaget dengan nilai PBB rumah yang kudiami, tertera angka Rp 4.447.952. Gila benar-benar gila! Naik fantastis dibandingkan tahun lalu. Pemda DKI kok rasanya tidak peka dengan penderitaan rakyat.
Seperti preman memalak korban yang musti dikenai uang preman. Bingung aku harus musti bilang apa. Teriak apa? Kalau penghasilannya pas-pasan, tinggal di rumah besar dan di daerah elit. Ah, apakah harus tersingkir ke penggiran? Atau begini caranya menyingkirkan orang-orang yang tidak tergolong "The Haves" untuk keluar dari DKI. Wow!
Gaji PNS di DKI naik fantastis. Tapi mengapa pajak dinaikkan gila-gilaan? Apakah ada hubungannya?
Ternyata hidup di dunia semakin menjepit. Yang meluaskan itu tetaplah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dia yang punya dunia dan akhirat. Sudahlah kumpulkan pahala untuk hidup nyaman di akhirat. Kalau memang dunia ini tak bisa dinikmati dengan nyaman.
Wassalam,
SangPenging@T!
Seperti preman memalak korban yang musti dikenai uang preman. Bingung aku harus musti bilang apa. Teriak apa? Kalau penghasilannya pas-pasan, tinggal di rumah besar dan di daerah elit. Ah, apakah harus tersingkir ke penggiran? Atau begini caranya menyingkirkan orang-orang yang tidak tergolong "The Haves" untuk keluar dari DKI. Wow!
Gaji PNS di DKI naik fantastis. Tapi mengapa pajak dinaikkan gila-gilaan? Apakah ada hubungannya?
Ternyata hidup di dunia semakin menjepit. Yang meluaskan itu tetaplah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dia yang punya dunia dan akhirat. Sudahlah kumpulkan pahala untuk hidup nyaman di akhirat. Kalau memang dunia ini tak bisa dinikmati dengan nyaman.
Wassalam,
SangPenging@T!
Selasa, Maret 03, 2015
Ngecat Rumah
Sejak 19 Februari 2015 lalu, pas tahun baru Imlek, aku menyibukkan diri mengecat rumah warisan orangtuaku. Asyik bukan kepalang. Kunikmati betul, aktivitas mengecat itu. Sebab kupikir kalau tak kunikmati, maka mengecat akan terasa berat. Dan betul, karena kunikmati maka ngecat jadi ringan dan mengasyikkan.
Dimulai dari mengecat tembok teras, warna putih. Hari ini, selasa 3 Maret, tahap finishing. Besok mulai ngecat kusen pintu.
Kok dikerjakan sendiri? Maklum duit terbatas. Mumpung tenaga masih ada, tidak masalah, bukan? Kucat sendiri.
Orang lain mungkin berpikir (lebih tepatnya mencibir).. Ih rumah sih gede, tapi kok ngecat sendiri sih? ngirit apa pelit tuh?... No Problemo, terserah orang mau ngomong apa.
Aku jadi ingat, dulu Ibuku pernah bercerita. Begini kisahnya; Setiap sore Ibu waktu dulu, ketika tinggal di komplek IAIN Ciputat, rajin menyapu halaman rumah, sendiri. Melihat itu, ibu-ibu tetangga suka berkomentar, "Bu kok repot-repot nyapu sendiri, khan ada pembantu".
Mendengar komentar begitu, Ibu sering mengungkapkan kepadaku, "Lho rumah-rumah sendiri, mau nyapu sendiri ya gak masalah... "... Tambahan dariku, mungkin Ibu akan bilang begini," So what getoh loh!"... hehehe....
Intinya selama masih bisa ditangani sendiri, ngapain ngerepotin (nyusahin) orang lain! (meskipun itu pembantu RT, sendiri).
Wassalam,
SangPenging@T!
Dimulai dari mengecat tembok teras, warna putih. Hari ini, selasa 3 Maret, tahap finishing. Besok mulai ngecat kusen pintu.
Kok dikerjakan sendiri? Maklum duit terbatas. Mumpung tenaga masih ada, tidak masalah, bukan? Kucat sendiri.
Orang lain mungkin berpikir (lebih tepatnya mencibir).. Ih rumah sih gede, tapi kok ngecat sendiri sih? ngirit apa pelit tuh?... No Problemo, terserah orang mau ngomong apa.
Aku jadi ingat, dulu Ibuku pernah bercerita. Begini kisahnya; Setiap sore Ibu waktu dulu, ketika tinggal di komplek IAIN Ciputat, rajin menyapu halaman rumah, sendiri. Melihat itu, ibu-ibu tetangga suka berkomentar, "Bu kok repot-repot nyapu sendiri, khan ada pembantu".
Mendengar komentar begitu, Ibu sering mengungkapkan kepadaku, "Lho rumah-rumah sendiri, mau nyapu sendiri ya gak masalah... "... Tambahan dariku, mungkin Ibu akan bilang begini," So what getoh loh!"... hehehe....
Intinya selama masih bisa ditangani sendiri, ngapain ngerepotin (nyusahin) orang lain! (meskipun itu pembantu RT, sendiri).
Wassalam,
SangPenging@T!
Langganan:
Postingan (Atom)