Tadi pagi selepas subuh kami (murid2nya yang sudah manula dan dewasa) mengunjungi guru ngaji kami.
kami menyimpan tangis di dada.
kami berdoa untuk ustadz kami.
"Yaa Rabb, sembuhkanlah penyakitnya. angkatlah deritanya"
berat nian cobaannya.
Tapi aku yakin seyakin-yakinnya usahanya membuat kami murid-muridnya yang semula tak pandai mengaji sehingga lancar mengaji tentulah berbuah pahala.
Begitulah manusia ketika tua kembali bagai balita.
Pak ustadz tak mengenali kami lagi.
Istrinya telaten merawat suaminya, pak ustadz kami.
Kami menyimpan kesedihan yang mendalam
Terima kasih pak ustadz aku jadi bisa mengaji dengan benar.
usahamu tak sia-sia
Dengan kesabaran tingkat dewa engkau mengajarkan murid-muridmu yang sudah manula.
engkau pernah bercerita bagaimana dulu waktu kecil, pecutan rotan sang Ustadz memerahkan tubuhmu ketika salah mengaji.
tapi kini engkau cukup menggelangkan kepala ketika muridmu belum juga betul tajwid bacaan Qurannya.
Semoga lekas sembuh pak Ustadz.
kami menyimpan tangis di dada.
kami berdoa untuk ustadz kami.
"Yaa Rabb, sembuhkanlah penyakitnya. angkatlah deritanya"
berat nian cobaannya.
Tapi aku yakin seyakin-yakinnya usahanya membuat kami murid-muridnya yang semula tak pandai mengaji sehingga lancar mengaji tentulah berbuah pahala.
Begitulah manusia ketika tua kembali bagai balita.
Pak ustadz tak mengenali kami lagi.
Istrinya telaten merawat suaminya, pak ustadz kami.
Kami menyimpan kesedihan yang mendalam
Terima kasih pak ustadz aku jadi bisa mengaji dengan benar.
usahamu tak sia-sia
Dengan kesabaran tingkat dewa engkau mengajarkan murid-muridmu yang sudah manula.
engkau pernah bercerita bagaimana dulu waktu kecil, pecutan rotan sang Ustadz memerahkan tubuhmu ketika salah mengaji.
tapi kini engkau cukup menggelangkan kepala ketika muridmu belum juga betul tajwid bacaan Qurannya.
Semoga lekas sembuh pak Ustadz.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar