Adsense

Kamis, April 07, 2016

Ban Bocor Tiba-tiba

Selepas subuh aku merevisi lagi myBook. Pada suatu paragraf aku menulis "kejadian yang menjengkelkan bisa jadi itu adalah ujian keimanan"

Setelah shalat Dhuha aku memacu motor jadulku ke kantor. Dari rumah sudah aku siapkan uang receh Rp 2000,- untuk menambah angin ban motorku. Karena sudah beberapa hari ini ban motor kurang anginnya. Sampai tukang tambal ban aku isi angin ban depan dan belakang. Selesai membayar, langsung aku tancap gas. "Brummm...".

Tak lama kemudian terdengar suara keras "Pessss...." kutengok ban belakang, "wow, kempes!". Aku turun dari motor, lalu motor aku tuntun. Berjalan lurus. Napas terengah-engah. Jantungku mulai kumat. Maklum aku penderita jantung koroner.

Di tengah perjalanan mencari tukang tambal ban, aku putuskan untuk berhenti sejenak dan menelpon Tiar anak sulungku. Aku minta dia mendorongku, pikirku. Ditunggu lama betul nggak datang. Lalu aku putuskan balik arah.Aku melawan arus lalu lintas. Sebab kupikir tukang tambal ban ada di dekat Green Garden. Betul juga dugaanku. Tak lama aku mendorong motor aku jumpa dengan tukang tambal ban.

Anak muda, kakinya cacat. Dia bergerak dibantu oleh sebatang tongkat. Bukan tongkat seperti biasanya yang ada bantalannya untuk dikepit di ketiak. Ini betul-betul tongkat polos kira-kira sepanjang 1,5 meter. Anak itu cekatan mengganti ban dalam motorku. Terpaksa aku membeli ban dalam baru. Karena bocornya ban sudah tidak mungkin untuk ditambal.

Oh rupanya ini toh pelajaran yang kudapat hari ini. Betapa pemuda cacat itu tetap gigih mencari sesuap nasi demi untuk anak istri. Kaki kanannya yang mengecil tak dijadikan alasan untuk bermalasan apalagi untuk mengemis. Subhanallah..

Iya ketika ban tiba-tiba bocor aku bertanya (maaf, setengah menggugat), "Tuhan, mengapa aku ditimpa ban bocor?", padahal pagi tadi aku sudah sedekah lumayan buat seorang fakir yang datang ke rumah.

Inikah yang namanya ujian keimanan? Maybe, yess...

Wassalam,
SangPenging@T!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar