Adsense

Jumat, Oktober 31, 2014

PNS

Sampai detik ini aku masih kerap bertanya dalam hati; apakah dulu aku telah salah mengambil keputusan penting, dalam memilih jalur karir yang sesuai dengan kebisaanku (bakatku)?

Sehingga yang aku rasakan kini, di usiaku yang setengah abad lebih dua tahun ini, aku kok sepertinya sedang berada di depan tembok yang tinggi dan tebal, bak tembok China. Sulit rasanya mau maju, menembus atau melompati tembok itu. Jalan yang kutempuh selama ini rupanya jalan buntu? Wow! Betul-betul menyebalkan. Sudah seumur begini, baru menyadari jalannya buntu.

Ah, apakah betul buntu? Jangan-jangan ini hanya perasaanku saja. Iya ya, jangan khawatir. Segera ambil keputusan penting. Atret! tahu apa itu atret? itu loh, mundur brO!. Yes, aku harus mundur beberapa langkah, atau beberapa meter untuk cari pertigaan, atau perempatan jalan, atau bisa juga sekedar tepian jalan yang pas buat mobil (atau "aku") memutar haluan. Lalu cari jalan lain yang bisa mengarahkan diriku ke tempat tujuan dengan tepat, jaraknya pendek dan tidak sampai kehabisan bensin (alias finish, atawa dead) sebelum sampai ke tujuan.

Emangnye tujuan ente kemana, pak? Ck ck ck... betul-betul pertanyaan bodoh. Atau pura-pura bodoh. Atau memang betul-betul gak ngerti ente? kataku berbalik tanya.

Dulu waktu muda, jelas tujuan hidupku; lulus kuliah secepatnya, dapat gelar sarjana S1, lalu cari kerja di biro iklan papan atas. Sudah gitu kawin dengan pacar tercantikku.

Kok nggak ingin jadi Pegawai Negeri Sipil? Jawabku cepat, karena dulu di (zaman) era orde baru, pegawai negeri rendahan, gajinya setara buruh pabrik. Sementara gaji Pegawai Swasta kantoran wuiih bayarannya 3 kali lipat dari gaji PNS.

Itu sebabnya aku memilih jadi pegawai swasta. Harapannya suatu saat nanti bisa jadi pengusaha terkemuka. Hmm... ternyata jadi juga sih pengusaha, tetapi pengusaha kelas teri. Tanpa kantor, tanpa karyawan. Alias pengusaha mandiri. Semua dikerjakan sendiri, yah ada sih bantuan tenaga dan dana dari istri. Apa pekerjaannya? Ya bikin desainlah. Graphic Design. Mulai dari desain kartu nama, kop surat, liflet, poster sampai spanduk.

Tapi kenapa nggak bisa maju usahanya. Mungkin disebabkan aku kurang gesit. Terlalu banyak mikir, sehingga lambat mengambil keputusannya. Ya jadinya begini.

Dalam posisi seperti sekarang, (di tengah mencari jalan yang pas buat tujuan selanjutnya, alias tujuan akhir). Aku melihat teman yang sukses jadi PNS. Aku jadi iri begini. Kok ngiri sih? Apa yang di-iri-kan? Iri, lihat penghasilannya yang diatas buruh pabrik. Bisa keliling Indonesia gratis, dapat uang saku lagi. Begitu pensiun. Hmmm, masih dapat bayaran setiap bulannya dari pemerintah. Opo ra enak?

Sebetulnya rasa iri itu tak perlu ada. Toh, dulu ketika disarankan oleh Bapakku, untuk melamar jadi PNS, aku tolak mentah-mentah.

Eh, gak tahunya sekarang malah aku mau muntah, mikirin jadi karyawan swasta kelas teri. Setelah mengarungi samudera pekerjaan sebagai karyawan di beberapa perusahaan iklan dan percetakan kelas menengah (ada juga sih yang kelas bawah), akhirnya aku terdampar di sini. Di perusahaan digital printing  bukan papan atas. Makanya penghasilannya pas-pasan.

Kenapa mau muntah. Sebabnya banyak, atau sedikit order, nggak berpengaruh sama isi dompetku. Itu yang bikin aku kesel, kheki bin katrok. Lho, lho... opo toh kuwi?

Oh iya, tadi kan aku sempet nyinggung tentang tujuan hidup. Gimana tuh lanjutannya. Sampai-sampai pertanyaanku dibilang sebagai pertanyaan bodoh. Tersinggung nih aku. Hehehe... oh tersinggung toh? Maapin deh ye.

Iya sekarang tujuan akhir yang harus kucapai adalah mati husnul khotimah, mewariskan pendidikan dan harta yang cukup buat anak-anak dan istri. Dan nanti di akhirat semoga bisa masuk surga.Itulah tujuan hidupku selanjutnya, setelah mentok di ujung jalan bertembok tebal dan tinggi.

Aku harus cari jalan yang bisa mengantarkan ke tujuanku di atas tadi. Jalan yang tepat, lurus dan yang harus adalah jalan yang diridai oleh Allah Swt.

Wassalam,
SangPenging@T!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar