Barack Obama akhirnya menjejakkan kembali kakinya di Indonesia, pada hari Selasa pukul 16.20 sore, tgl 9 Nopember 2010. Setelah 40 tahun yang lalu meninggalkan Indonesia. Dan dua kali sudah rencana kunjungannya ditunda. Walau kunjungannya kali ini hanya 19 jam, tapi dia berharap bisa berkunjung lagi untuk melihat Yogyakarta, Candi Borobudur dan Bali.
Kunjungan kali ini pun nyaris dibatalkan, bila debu vulkanik gunung Merapi sampai mengganggu pendaratan pesawat kepresidenan “AirForce One” di Halim Perdanakusuma (Ah, terlalu mengada-ada). Indonesia bagi Obama adalah sebuah negeri yang punya nilai historis dalam kehidupannya. Tiga tahun dia menikmati pendidikan di sekolah Katolik SD Fransiscus Asisi di Tebet serta satu tahun di Sekolah Dasar Negeri 1 (SD Besuki) di Menteng.
Cita-citanya yang ia canangkan ketika duduk di bangku SD adalah ingin menjadi presiden, titik! Alasannya? Ia nanti bisa berkeliling Indonesia. “Entah yang dimaksudkannya waktu itu, Presiden Indonesia atau Amerika Serikat,” kata guru SD-nya.
Dan kemarin dia nyatakan dalam jamuan makan malam di Istana Negara bersama Presiden SBY dan para tamu undangan lainnya, bahwa dulu dia tak pernah membayangkan suatu saat berkunjung (“pulang kampung”) ke Indonesia dijamu oleh Presiden RI. Dan yang membuat dia terkesan karena dia bisa berkunjung ke Istana Negara dalam kapasitas sebagai Presiden Amerika. Luar biasa!! “Terima kasih, untuk baksonya, nasi goreng, emping, kerupuk… hm semuanya enaak!” ujarnya dengan mantap.
Betapa bahagianya dia sebagai etnis keturunan Afrika bisa menjadi Presiden Amerika termuda. Cita-citanya dulu waktu SD kesampaian sekarang. Bahkan tidak hanya keliling Indonesia, tetapi keliling dunia. Suatu prestasi yang membanggakan. Yang bangga jelas orangtuanya dan keluarganya, terutama istri dan anak-anaknya.
Aku melihat Obama sebagai manusia yang dikaruniai bakat kepemimpinan yang hebat. Murah senyum, senang menyapa, bersahabat dan penuh perhatian kepada lawan bicaranya. Senang berorganisasi dan pandai berorasi. Semuanya itu sebagai modal penting untuk memangku jabatan presiden. Dan aku tak punya bakat seperti Obama (makanya aku tidak jadi presiden, lagi pula tidak bakal ada yang memilih! Hehe he…)
Dan itulah pentingnya cita-cita. Aku jadi ingat waktu SD di Pontianak dulu, sekitar tahun 70-an, teman-temanku kalau ditanya, “cita-citanya mau jadi apa jika sudah besar?” Jawabannya pasti klise; ada yang mau jadi dokter, ingin jadi insinyur, mau jadi tentara, ingin jadi polisi. Cita-citanya paling banter seputar itu. Terus terang dulu aku bercita-cita jadi pilot pesawat terbang Garuda. Tapi sayang “gatot” alias gagal total!
Jadi guru? Sepertinya jarang pada waktu itu yang bercita-cita menjadi guru. Apalagi jadi Presiden. Tapi anak SD sekarang kalau ditanya cita-citanya apa, banyak tuh yang bercita-cita jadi guru (mungkin karena gajinya sekarang gede kali ya?)
Obama telah membuktikan ucapannya dulu waktu kecil. Rupanya diam-diam dia terus gigih berupaya keras untuk mewujudkan cita-citanya melangkah ke Gedung Putih. Tak dipedulikannya orang-orang yang mematahkan semangatnya untuk jadi orang nomor satu di Amerika Serikat. Belajar, belajar dan terus belajar, itu kuncinya. Dan kini dengan bangga dia bisa berkata kepada dunia, dan kepadaku;
”I’m Barack Obama, I am the President of the United State of America!” and.. “Who are you?” ”I’am Fajar, I’am a Warner!” jawabku mantap.
“What’s?” tanya Obama penasaran.
“I’m the warner about heaven and hell, of the hereafter” kataku memperkenalkan siapa diriku.
“Well, I like bakso and nasi goreng, do you want it?” katanya mengalih pembicaraan.
“Mau dong. Kok jadi nggak nyambung nih arah pembicaraannya?” tanyaku berusaha memancingnya untuk berbahasa Indonesia.
“Hm… begini, coba tolong dijelaskan siapa kamu sebenarnya? Dan kok bisa-bisanya kamu telpon ke HP saya dan masuk lagi.. heran saya, padahal penjagaan diri saya berlapis?” tanya Obama kali ini dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.
“Itulah yang namanya sudah suratan takdir aku bisa telepon Mr. Obama. Tadi aku iseng pencet-pencet nomor di HP saya… eh nggak tahunya nyambung ke nomor Mr. President. Mungkin karena mas Obama ada di Indonesia jadi tidak kena biaya roaming nih!” ujarku menerangkan sekenanya. Sembari memanggilnya “mas” biar terasa akrab.
“Lalu apa tadi profesi kamu?” tanyanya penasaran.
“Saya adalah Sang Pengingat!” jawabku tegas.
“What’s???” tanyanya lagi.
Nah ini dia nih, kagak jelas-jelas juga, padahal sudah kukatakan tadi pakai bahasa Inggris yang baik dan benar (menurutku sih). Hehe.. he…
“Saya sekarang sedang menekuni profesi baru saya. Yang saya suka menyebutnya sebagai “Sang Pengingat”. Tugasnya adalah mengingatkan kepada diri sendiri, keluarga dan kepada banyak orang lainnya, khususnya yang mau diingatkan tentang surga dan neraka, yang ada di kehidupan akhirat nanti. Jelas mas Obama?” kataku berusaha menerangkan kepadanya.
“Yes, now I’m understand your profession. Maybe next year… I can meet you, together we can talk about Islam.. and eat bakso. Ok?” katanya.
“Yes..of course, with pleasure…” jawabku bersemangat. Lagi-lagi bakso…
“By the way… apakah itu cita-cita waktu kamu kecil dulu?” tanya Obama menaggapi profesiku.
“Oh no… itu cita-citaku yang baru,… sejak aku sign in di facebook, a few month ago…”
“Alright… I know you now. Well, kapan-kapan mau kamu saya undang ke Washington… bicara tentang surga dan neraka, di Capitol Hill di depan para anggota konggres Amerika” katanya penuh harap.
“Yes I’m very interested about that!” jawabku mantap. (Ngarep ni yee!)
Aku yakin ini cuma basa-basi sang Presiden saja. Tapi kalau benar, itu kesempatan bagus buatku menerangkan bahwa para tentara Amerika yang membunuh warga muslim yang tak berdosa di kawasan Irak, Afganistan dan Pakistan, balasannya nanti di akhirat sangat mengerikan.
“Ngomong-ngomong tulisan catatan kamu di facebook sudah lebih dari 50 artikel ya? Dibikin buku bagus lho” katanya dengan antusias.
“Insya Allah… saya sedang berfikir untuk membukukannya. Nantilah kalau sudah tepat waktunya” jawabku.
“If your book‘ve been published, please sent to me in The White House” pinta Mr. Obama.
“Yes, of course!” jawabku mantap
“Bye bye mas Fajar...” katanya menutup pembicaraan lewat telpon yang nyasar. Tumben nih Mr. Barrack Obama memanggilku pakai kata depan “mas”, emangnya dia tahu aku dari jawa. Ah, sok tahu dia. Tapi benar tuh.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar!!!” tiba-tiba Hpku mengumandangkan suara adzan Ashar. Suara adzan itu membuyarkan lamunanku berbicara langsung dengan Barack Obama, beberapa menit yang lalu. Dan aku tersadar kini, bahwa kita jangan mudah terpukau dengan penampilan seseorang. Entah dia president, atau office boy, di hadapan Allah bukan jabatannya yang dinilai. Tetapi ukurannya adalah derajat KETAQWAAN kita. Semoga kita (aku dan para pembaca) senantiasa diberi hidayah oleh-Nya sehingga kita mampu untuk terus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Amiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar